Tarbiyah Syahadatain Bagian 4 - Al-Wala' Wal Bara

Al-Wala' Wal Bara' ( Loyalitas dan Anti Loyalitas )

Konsekuensi dari ikrar dua kalimat syahadah adl sikap al-wala’ wa al-barra’. Al-Wala’ berarti loyalitas. Tinjauan etimologi kata ini merujuk kepada rumpun asal kata waw lam dan ya yg mempunyai pengertian ‘dekat’. Dari rumpun asal kata tersebut berkembang menjadi beberapa istilah yg kesemuanya bermuara pada satu benang merah kedekatan. Ketika muncul dalam bentuk subjek ia bisa berarti pelindung penolong pemimpin atau kawan setia.

Loyalitas menyiratkan makna dekat. Adapun barra’ berarti berlepas diri. At-Taubah 1 Az-Zukhruf 26 Mumtahanah 4 dan Al-Qamar 43 menyebutkan makna itu. Wala’ dan barra’ adl sikap yg harus diambil oleh tiap muslim setelah ia mengucapkan syahadatain. Ia loyal kepada Islam yang berarti taat kepada seluruh ajarannya dan menjadi pelindung dari semua gangguan yg menerpanya. Dan ia berlepas diri dari semua hal kontra syahadatain baik berupa wacana ataupun perbuatan nyata.

Syekh Abdurrahman bin Hasan dalam risalahnya menjelaskan bahwa tauhid tidak akan dapat tercapai kecuali dgn berlepas diri dari kemusyrikan dan memutuskan hubungan dgn orang musyrik baik lahir maupun batin. Allah SWT secara tegas memerintahkan hal tersebut kepada para rasul-Nya dan orang-orang yg beriman seraya memuji mereka yg melakukan tindakan itu.

Ada sekitar 12 ayat merujuk kepadanya antara lain Al-An’am 14 78 - 79 Az-Zukhruf 26 Al-Baqarah 135 An-Nahl 120 123. Pengertian wala’ dan barra’ mengandung suatu aksioma bahwa sebuah cinta dan benci timbul semata-mata krn agama. Seorang muslim akan mencintai dan melindungi saudaranya yg muslim krn ‘keislamannya’ bukan kedekatan keluarga atau tempat tinggal. Pun ketika ia membenci orang kafir atau musyrik. Hal demikian disebabkan kekufuran kemusyrikan dan kebencian orang itu terhadap Islam meski ia termasuk orang tua atau saudaranya. “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yg beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dgn orang-orang yg menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” .

Maka jika kemudian seorang muslim membela dan melindungi orang-orang kafir atau musyrik lalu malah membenci dan memusuhi saudaranya sesama muslim kita wajib mempertanyakan keislamannya. Demikian halnya ketika ia lbh mempercayai orang-orang kafir/musyrik utk menjadi penolongnya. Bukankah Allah SWT telah berfirman “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah Rasul-Nya dan orang-orang yg beriman yg mendirikan salat dan menunaikan zakat seraya tunduk .” . Malah perbuatan itu dapat menyebabkan kekukufuran. “Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” .

Adapun menjalin hubungan yg tidak ada kaitannya dgn masalah-masalah agama tidak termasuk dalam konsekuensi wala’ dan barra’ yg mesti dipenuhi. Namun hal itu dapat mengurangi kesempurnaan bertauhid dan bisa jadi mendorong pelakunya kepada situasi yg bertentangan dgn konsekuensi wala’ dan barra’. Pendapat Syekh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab mungkin perlu diperhatikan. Ia mengatakan “Seorang muslim wajib meyakini bahwa Allah SWT mengharuskannya berkonfrontasi dgn orang-orang musyrik dan tidak menjalin persahabatan dgn mereka.

Allah mengabarkan bahwa hal itu sebagai bagian dari syarat-syarat iman. Dan keimanan akan hilang dari seseorang yg berkasih sayang dgn penentang Allah dan Rasul-Nya meski ia masih kerabatnya. Ini merupakan realisasi dan konsekuensi dari makna la ilaaha illallaah. Allah tidak menuntut kita utk berlarut-larut dalam membahasnya. Yang Ia minta hanya agar kita tahu dan yakin bahwa Ia telah memerintahkan hal itu kepada kita dan kita wajib melaksanakannya.
Bila seseorang melaksanakannya niscaya mendapatkan kebaikan dan akan bertambah kebaikannya.” Insya Allah kita akan melanjutkan serial pembahasan wala’ dan barra’ pada edisi Hukum-Hukum AL Wala’ wa Al Bara.


Hukum-Hukum al-Wala’ wa al-Bara’

Al-wala’ wa al-bara’ mempunyai konsekuensi hukum yg sangat banyak. Setiap zaman terkadang muncul berbagai fenomena al-wala’ wa al-bara’ yg berbeda dgn zaman sebelumnya. Karena itu hukum harus dijelaskan berdasarkan dalil-dalil syariat Islam. Dalam kaitan ini kami akan membatasi penjelasan pada beberapa hal saja hukum bersesuaian dgn orang kafir hukum melakukan perjalanan ke negeri kafir hukum bergaul dgn orang kafir dan perbedaan antara akidah al-wala’ wa al-bara’ dgn keharusan bermuamalah yg baik.

Hukum Bersesuaian dgn Orang Kafir Kaitannya dgn orang kafir kaum muslimin dihadapkan pada tiga kondisi.
Pertama bersesuaian dgn mereka secara lahir dan batin. Ini menyebabkan pelakunya menjadi kafir dan dinyatakan keluar dari Islam secara ‘ijma . Kedua bersesuaian dgn mereka secara batin saja. Berdasarkan ijma yg ini juga menyebabkan pelakunya menjadi kafir. Karena ia merupakan nifaq besar yg membuatnya keluar dari Islam. Ketiga bersesuaian dgn mereka secara lahir saja. Kondisi ini ada dua jenis.

Mereka melakukan itu krn adanya intimidasi fisik yg sampai pada tahap pembunuhan. Dalam kondisi demikian selama hanya mengucapkan dgn lisan sedangkan hatinya tetap penuh dgn iman pelakunya tidak dianggap kafir meskipun ia mengucapkan kata-kata kufur. Allah Taala berfirman yg artinya “Barangsiapa yg kafir kepada Allah setelah ia beriman kecuali orang yg dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman ”.

Mereka melakukannya secara sukarela krn tujuan duniawi seperti ambisi berkuasa memperoleh kedudukan popularitas dan sebagainya. Hal ini menjadikan pelakunya kafir. Namun para ulama berbeda pendapat tentang jenis kekufurannya. Mereka ada yg menghukuminya dgn kufur besar yg menyebabkan sang pelaku keluar dari Islam sebagaimana firman Allah “Yang demikian itu disebabkan krn sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lbh dari akhirat dan bahwasanya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” .

Di sini Allah Taala menyatakan mereka kafir krn mendahulukan kehidupan dunia daripada akhirat. Ada pendapat kedua yg mengategorikan perbuatan ini sebagai kufur kecil yg tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Dasar pendapat ini adl perbedaan antara muwalaah dan tawalli. Perbuatan ini termasuk jenis tawalli sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai kufur besar. Namun menurut Dr. Ibrahim al-Buraikan yg terkuat adl pendapat yg pertama berdasarkan ayat yg telah disebutkan.


Konsep Al-Wala’ Wal-Bara’ Dalam Aqidah Islam

“Hai orang-orang yg beriman janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin sebahagian mereka adl pemimpin bagi sebahagiaa yg lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yg zalim ”

Definisi Al-Wala’ Wal-Bara’ Kata al-wala’ menurut bahasa berarti; mencintai menolong mengikuti mendekat kepada sesuatu. Kata al-wala’ menurut terminologi syariat berarti; penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yg disukai dan diridhoi Allah berupa perkataan perbuatan kepercayaan dan oarng. Wilayah al-wala’; apa yg dicintai Allah. Ciri utama wali Allah; mencintai apa yg dicintai Allah dan membenci apa yg dibenci Allah ia condong dan melakukan semua itu dgn penuh komitmen.

Kata al-bara’ menurut bahasa berarti; menjauhi membersihkan diri melepaskan diri memusuhi. Kata al-bara’ menurut terminologi syariat berarti; penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yg dibenci dan dimurkai Allah dari perkataan perbuatan kepercayaan serta orang. Wilayah al-bara’; apa yg dibenci Allah. Ciri utama al-bara’; membenci apa yg dibenci Allah secara menerus dan penuh komitmen.
Aqidah Al-Wala’ Wal-Bara’ adl penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yg dicintai dan diridhoi Allah serta apa yg dibenci dan dimurkai Allah dalam perkataan perbuatan kepercayaan dan orang.

Kaitan-kaitan Al-Wala’ Wal-Bara dibagi menjadi 4
Perkataan; zikir dicintai Allah mencela dan menuduh dibenci Allah.
Perbuatan; dicintai Allah dibenci Allah.
Kepercayaan; dicintai Allah dibenci Allah.
Orang; orang beriman yg mengesakan Allah dicintai Allah orang kafir dan musrik dibenci Allah

Kedudukan Aqidah Al-Wala’ Wal-Bara’ dalam Syariat Islam.
Bagian penting dari makna syahadat
Bgaian dari ikatan iman yg terkuat
Sebab utama hati bisa rasakan manisnya iman
Tali hubungan di atas mana masyarakat Islam dibangun
Meraih pahala yg sangat besar
Perintah syariat utk dahulukan hubungan ini daripada hubungan lain
Jika konsep ini teraplikasi akan memperoleh walayatullah
Tali penghubung yg kekal di antara manusia hingga hari kiamat
Syarat sahnya ucapan syahadat
Jika konsep ini tidak dijalankan menjadi kafir.

Penyempurna keimanan
Aqidah Al-Wala’ Wal-Bara’
•Wajib; 9 24 2 165 3 128 3 141 5 51

Salah satu konsekuensi dan syarat sahnya syahadat
Pembagian manusia berdasarkan Aqidah Al-Wala’ Wal-Bara’ ada 3 bagian
Orang yg berhak mendapatkan wala’ mutlak Orang mukmin yg beriman kepada Allah dan Rasul-Nya menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah dgn ikhlas krn Allah. Orang yg berhak mendapat wala’ di satu sisi dan bara’ di sisi lain Muslim yg melakukan maksiat yg melalaikan sebagian kewajiban agama melakukan sebagian perbuatan yg diharamkan Allah namun tidak menyebabkan ia menjadi kufur dgn tingkatan kufur besar.

Orang yg berhak mendapat bara’ mutlak Orang musyrik kafir Syarat mendapat ‘Kewalian’ dari Allah :
Berakal
Baligh
Kesesuaiannya dgn apa yg dicintai dan dibenci Allah
Mengetahui dasar-dasar agama
Mengetahui masalah-masalah furu’ dalam syariat Islam
Mempunyai akhlak terpuji
Takut kepada Allah


Tingkat Wali-Wali Allah :
As-Sabiquun Fil Khairat
Al-Muqtashid
Az-Zhalimu Linafsihi

Hak-Hak Al-Wala’ :
Hijrah
Membantu dan menolong kaum muslimin
Terlibat dalam permasalahan kaum muslimin
Mencintai kaum muslimin seperti mencintai diri sendiri
Tidak mengejek melecehkan mencari aib dan berghibah serta menyebarkan namimah kepada kaum muslimin
Mencintai dan selalu berusaha berkumpul bersama kaum muslimin
Melakukan apa yg menjadi hak kaum muslimin
Bersikap lembut mendoakan serta memohon ampun bagi kaum muslimin
Amar ma’ruf nahi munkar serta menasehati kaum muslimin
Tidak cari-cari aib dan kesalahan kaum muslimin serta buka rahasia mereka kepada musuh Islam
Memperbaiki hubungan di antara kaum muslimin
Tidak menyakiti kaum muslimin
Bermusyawarah dgn kaum muslimin
Ihsan dalam perkataan dan perbuatan
Bergabung dalam jamaah kaum muslimin dan tidak berpisah dgn mereka
Tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Sumber : Al-Jahl bi Masailil I’tiqad wa Hukmuhu Abdur Razzaq bin Thahir bin Ahmad Ma’asy Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia